HeadlineKolomSarapan Pagi

Jika Dunia tanpa Islam

Penulis: Dr T Taufiqulhadi

Wartawan Senior dan Anggota DPR RI 2014-2019

SEKITAR delapan tahun lalu, pada stop over  di sebuah bandara, saya membeli sebuah buku kecil, paperback, yang semula saya kira sebuah novel Jackie Collins. Tapi kemudian dengan cepat saya  sambar karena judulnya yang sensasional: A World Without Islam. Karena Covid-19, baru sekarang saya membacanya karya Graham E. Fuller tersebut.

ADA pertanyan-pertanyan. Apakah dalam “satu dunia tanpa Islam” itu dipastikan bakal tidak muncul ayatullah laksana  Khomeini yang seraya tersenyum simpul  mencap orang-orang penuh rasa harga diri di gedung sebagai setan? Atau bakal ada jaminan tidak ada teroris berdarah dingin yang melabrakkan pesawat ke menara WTC New York 11 September 19 tahun lalu?

Di dunia Barat kini, dengan menunjuk Islam maka semua menjadi jelas bin terang, sesederhana melihat warna kambing — mana  kambing hitam, mana kambing. Di sini ada “nilai Barat” yang adiluhung, dan di timur ada “nilai Islam”  laksana mata Sauron dari dunia middle eart yang selalu mengirim  pesan fana. Kedua nilai ini seakan telah bertempur sejak Nabi Adam,  dan jika ada perang dunia keempat dan kelima, nilai Islam inilah pembuat gara-gara. Sedang Barat sebagai pendukung nilai terpuji itu adalah dewa tak ternoda, yang boleh menyetubuhi siapapun , dan bayinya pasti suci juga.

Tuan Bush boleh saja membantai rakyat Irak yang dipimpin Saddam Husein, dan mendongkel Ghaddafi dari tempat duduknya sampai mati. Itu adalah misi suci, dan yang salah adalah Saddam Hussein dan Ghaddafi sendiri. Siapa suruh mereka jadi Arab.

Kami hanya mengurus perkara kami sendiri, mencoba membereskan dunia. Keduanya adalah onggokan yang menggangu di lahan tak bertuan. “Karena itu, tebang saja biar beres,” demikian kira-kira benak para neokon yang bermental lahan tak bertuan itu setelah peristiwa 11 September itu.

Padahal sejarah tidak dimulai pada 11 September 2001 ketika anak-anak buah Osama bin Laden yang keblinger tersebut  membenturkan pesawatnya ke menara WTC  di atas. Sesungguh,  sejarah hubungan Timur-Barat, jika bukan sejak Alexander dari Makedonia menyerbu ke Asia pada 333 SM, harus di mulai sejak 324 M.

Tepatnya, ketika sebuah kerajaan terbesar di dunia sempoyongan karena serangan kaum Barbar, berinisiatif kabur ke Timur.  Kaiser Romawi,  Konstantin, dengan tergopoh-gopoh memindahkan kekaisarannya dari kota Roma ke sebuah kota pelabuhan di mulut Laut Hitam, Bizantion. Di sana, dengan cepat, ia menggantikan nama kota itu seperti namanya, Konstantinopel.

Sang kaiser  memboyong apa saja yang melintas di benaknya. Ia mengajak serta puluhan ribu penghuni Roma. Mengosongkan semua isi istana dari istri hingga kecing-kucingnya. Para senator, yang rupanya dari sejak sudah banyak maunya, diberi insentif untuk pindah; replika rumah-rumah mereka yang sama persis menunggu mereka di kota baru tersebut.

Namun meski  semua diboyong, ada satu orang yang lupa diajak yaitu uskup Roma. Urusan lupa ini akhirnya berakibat fatal: negara pergi sendiri, sementara gereja bergeming. Negara yang pergi,  Romawi Timur (Konstantinopel),  jatuh di bawah negara;  gereja yang tidak mau beringsut, Ramowi Barat (Roma), jatuh di bawah kekuasaan agama.

Sejak itu pula muncul dua sayap terpisah Kekaisaran Romawi — Timur dan Barat. Pada 476 M, sayap Barat yang tersisa tumbang karena serbuan orang-orang Barbar, moyangnya Angela Markel di Berlin sekarang. Sayap Timur di Konstantinopel itu kini mewarisi seluruh mantel Kekaisaran Romawi lengkap dengan semua wilayah yang luas di Balkan, Anatolia, Mediterania Timur, dan Afrika Utara.

Munculnya Konstantinopel sebagai ibu kota baru Kekaisaran Romawi membawa akibat-akibat budaya yang penting. Kebalikan dengan dominasi mutlak bahasa Latin di Kekaisaran Barat, bahasa Yunani bahasa pemersatu bagi seluruh Mediterani timur, dan Konstantinopel. Konstantinopel akhir makin tidak peduli bahasa Latin karena ada kartu truf: Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.

 Meski akar-akarnya ada di budaya berbahasa Yunani, tapi Konstantinopel tidak  surut menyebut dirinya sebagai ibu kota Kekaisaran Rumawi, yang coba terus disanggah oleh Roma. Sanggahan yang sia-sia. Karena memang nama Romawi untuk menunjukkan Kekaisaran Timur telah melampaui penutur bahasa Yunani, dan masuk ke bahasa-bahasa kebudayaan Islam. Orang Persia, Turki, Arab dan, bahkan, Melayu, menyebutkan Rum (Roma). Dan, masih begitu hingga kini.

Barat yang telah jatuh ke kuasaan Barbar, tetap tidak mau melepas istilah Romawi. Ia menyebut Kekaisaran Timur sebagai Imperium Graecorum, atau “Kekaisaran Yunani”. Sebaliknya, menyebut dirinya dengan Imperium Romanorum, atau “Kekaisaran Romawi”.

Pada tahun 800 M, raja orang-orang Barbar itu, Peter Agung, dengan  dukungan Paus Leo III, melangkah dengan beraninya karena menyebut  “Kekaisaran Roma Suci”. Tambahan “Suci” jelas menambah bahan bakar nyata bagi api tersebut.

Maka lama, Barat yang didominasi kaum Barbar melihat Konstantinopel sebagai tak lebih dari sebuah tempat tradisi Timur yang kedodoran, lemah, dan busuk, dan pasti tidak akan mampu bertahan menghadapi orang-orang Muslim yang kafir.

Memang pada tahun 1453, Konstantinopel jatuh ke tangan Khilafah Turki Usmani. Tapi Kekaisaran Romawi Timur justru berjaya hingga 1000 tahun, sementara Kekaisaran Romawi Barat melangkah ke abad kelima saja tidak sempat.

Dalam sebuah keputusan kebudayaan paling penting dalam sejarah,  Gereja Ortodoks Timur mengirim para misionaris ke segala penjuru untuk mengimankan dunia kafir dan mendirikan gereja-gereja baru  — gereja Bulgaria, Serbia, Rusia, Makedonia, Koptik, Albania, Armenia, Romania. Gereja-gereja ini dengan cepat menjadi gereja etnis ” nasional” karena menggunakan bahasa setempat dalam upacaranya. Kontras dengan tradisi Katolik yang “supranasional” dan upacaranya melulu bahasa Latin.

Ketika persaingan makin sengit, Timur berhasil mempertobatkan orang-orang Serbia, Bulgaria, Ramonia, Rusia dan separuh bagian selatan Albania. Roma tidak tinggal diam, ia mempertobatkan orang-orang Polandia, Ceko, Slovak, Kroasia, Slovania, dan Hungaria. Pilihan ini telah menentukan oreintasi budaya mereka dan bertahan hingga sekarang.

Sebuah garis patahan Latin-Ortodoks masih membentang dari Luat Baltik ke bawah melalui Yugoslavia lama hingga Laut Aegea. Pada 1054, karena pergulatan politik dan teologis, maka memunculkan bencana besar dalam gereja: Roma dan Konstantinnopel saling mengucilkan, dan itulah awal “Skisma Besar” dalam gereja Kristen. Jika mau disebut, itulah sebenarnya Perang Dingin pertama dalam sejarah manusia.

Sikap membenci antara Timur dan Barat berakibat pada peristiwa yang paling emosional dalam sejarah mereka yaitu ketika terjadi apa yang disebut dengan “Pembantaian Latin” di Kontanstinopel pada 1184.

Perasaan anti Barat yang sangat dalam di kalangan rakyat berujung dengan pembantaian pedagang-pedagang Venesia (yang Katolik).  Dalam kerusuhan panjang itu, secara mencengangkan 80.000 “kaum Latin” dibantai. Sebenarnya pembantain ini tidak berdiri sendiri, tapi sangat terkait dengan Perang Salib 10 tahun sebelumnya.

Perang Salib adalah perang Kristiani sesuai seruan Paus Urbanus II untuk membebaskan Tanah Suci dari kaum Muslim yang kafir. Tapi satu hal yang mengagetkan, tidak sekalipun dalam pidato Sang Paus ada penyebutan “Muslim” atau “Islam”.

Tapi yang selalu disebut seperti dalam Konsili di Clermont pada 1095 adalah “Kafir”, “orang yang tidak percaya”, “orang-orang Turki”, dan “orang-orang Arab” yang menindas “saudara-saudara Kristen kita” dan Tanah Suci. “Biarkanlah mereka yang telah lama jadi perampok-perampok, sekarang menjadi kesatria-kesatria,” tambah Paus Urbanus II, sebagaimana dilaporkan saksi mata, Fulcher dari Chartres.

Maka demikianlah, seruan Paus ini memunculkan sedikit kesatria, selebihnya adalah gerombolan orang biasa yang tidak memiliki ketrampilan bertempuran. Sebagian lain adalah orang-orang yang ingin melepaskan diri dari himpitan hidup di rumah mereka, dan yang cukup penting  juga adalah para gerombolan perampok.

Ketika gerombolan acak-acakan ini — separuhnya mati di jalan atau dibantai tentara Seljuk di Asia kecil —  akhirnya mencapai Jerusalem pada 1099. Maka perebutan kembali kota itu menjadi peristiwa sangat brutal. Berbeda ketika pada 637 saat Jerusalem jatuh ke tangan kaum Muslim.

Setelah pengepungan berbulan-bulan, akhir Jerusalem jatuh. Khalifah Umar masuk ke kota, dan segera mendeklarikan penguasaan damai Jerusalem. Penduduk tidak boleh diganggu, semua tempat ibadah harus dijaga dan tetap berada ditangan para pemuka agamanya: tak selembar nyawa pun melayang.

Namun pada 15 Juli 1099 ketika Jerusalem jatuh tangan orang Barat, dalam periode 24 jam, praktis semua penghuninya musnah karena pembantain kejam. “Semua laki-laki, perempaun, dan anak-anak; semua Muslim, semua Yahudi, dan semua Kristen Ortodoks Timur  terbantai habis”, lapor the Catholic Encyclopedia, singkat.

Perang Salib itu sendiri berlangsung selama empat kali yaitu Perang Salib I, II, III dan IV.

Perang Salib II disebut Perang Salib Raja, yang dibedakan dengan Perang Salib rakyat yang pertama. Perang Salib Raja gagal total. Sasaran utama adalah Damaskus, tapi tak berhasil direbut. justru karena karena kedatangan rombongan raja dalam misi kedua  ini, membuat panglima Islam Salahuddin al-Ayubi berhasil mendorong konsolidasi kekuatan militer Muslim pada 1180. Tapi dengan dua kali  kedatangan orang Barat itu, Kaiser Romawi Timur khawatir bukan alang kepalang.

Perang Salib III terkenal karena ikut Serta Raja Richard  dari Inggris. Perang Salib ketiga ini mencuat karena ulah Raja Richard Berhati Singa ini sendiri. Setelah berbulan-bulan mengepung Akra (Acre), ia menjanjikan keamanan bagi semua penduduk Muslim yang menyerah. Ketika semua kaum Muslim menyerah, dengan hati singanya itu ia  memerintahkan untuk membantai mereka semua.

Sebaliknya, dalam Perang Salib ketiga ini, Salahuddin berhasil merebut kembali Jerusalem. Setelah pengepungan, ia menjanjikan  memberikan keamanan bagi semua warga Kristen yang menyerah. Ketika semua penduduk Kristen menyerah, Salahuddin masuk, dan memerintahkan untuk melindungi semua orang Kristen, persis seperti Khalifah Umar lakukan 462 tahun lalu: tak satu nyawa pun hilang. Hanya dengan Perang Salib ketiga, kecurigaan Konstantinopel makin kuat kepada “kaum Latin”. Buktinya, dalam perjalanan ke Jerusalem, Raja Richard  menduduki Siprus milik Romawi Timur.

Pada Perang Salib ke-4, kecurigaan-kecurigaan “Latin” dan “Yunani”, mencapai puncaknya. Perang Salib kali ini menancapkan kenangan buruk bagi orang Yunani hingga sekarang. Dengan mengabaikan misi merebut kembali Jerusalem demi Kristen, pada 1204, prajurit Perang Salib berbelok sasarannya sangat jauh dari Jerusalem.

Sebagai ganti, mereka menyerbu dan menguasai Konstantinopel. Atas nama  Gereja Romawi, mereka merampas, menjarah, memerkosa dan menghancurkan Konstantinopel tanpa ampun. Setelah itu, para perajurit Perang Salib itu mendudukkan seorang seorang uskup agung Latin, yang membuat rakyat merasa sangat terhina.  Pendudukan, penghinaan dan penjarahan Konstantinopel ini akhirnya menutup total  semua peluang  untuk bersatu kembali kedua gereja tersebut. Dan, penghinaan inilah yang melatari  “pembantaian Latin” di Konstantinopel, yang kita sebut di atas.

Romawi Timur memang telah lama kehilangan kendali Tanah Suci kepada kaum Islam. Tapi tak pernah Romawi yang Yunani ini berusaha meminta bantuan ke Barat yang Latin. Dalam sejumlah episode Perang Salib, para perajurit Barat itu tanpa ampun membantai kaum Kristen Ortodoks itu bersama kaum Muslim.

Selain itu, mereka juga melakukan pengusiran terhadap uskup-uskup agung Ortodoks dari Jerusalem dan Antiokia. Maka sangat mudah diduga, pengambilan wilayah-wilayah dari kaum Islam adalah dalih belaka.  Jika merereka berhasil melakukan ekspansinya ke jantung Islam di Arabia, apa ada jaminan mereka tidak menjadi Jerusalem dan Antiokia sebagai pangkalan untuk merebut Romawi Timur yang Kristen Ortodoks?

Jadi jika “Suatu Dunia Tanpa Islam,” apa jadinya? Fuller berargumen, penyerbuan  Barat ke Timur tetap akan terjadi karena nafsu ekspansionis Barat. Agama itu hanya kedok saja. Hanya, kalau tanpa Islam,  pendukung kekuatan Timur  digantikan oleh Kristen Ortodoks.

Di Irak tidak hadir Saddam Hussein yang Islam, tapi walau tetap berkumis, itu adalah Saddam yang Kristen Ortodoks. Di Libya juga tidak hadir Ghaddafi yang Islam,  tapi walau agak sedikit jail kepada Gedung Putih, itu Ghaddafi yang Kristen Ortodoks. (*)

Selengkapnya

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button