HeadlineNewsPodium

Pemilu Daring Sektoral di Tahun 2024

Pagi ini saya tergelitik menulis lagi. Kali ini soal Pemilu saja. Pemilu yang membuat masyarakat kita terbelah dari kondisinya yang memang terbelah. Profesor Salim Said berkali pula menyebut bangsa Indonesia ini sebagai Fragmented Society, masyarakat yang terbelah. Rasanya ini pula yang membuat Sukarno, sangat gigih memperjuangkan pentingnya persatuan Indonesia.

Mempersatukan Indonesia yang terfragmentasi atas suku bangsa, agama, adat istiadat dan budaya, bahasa, serta pengalaman historis masing-masing warga itu menjadi penting sepanjang Republik Indonesia ini ada. Ada senyawa ideologis Pancasila untuk menyatukan mereka, namun juga tersedia cukup banyak bara api yang siap membakarnya hingga kembali terbelah. Di tengah itu pula ada penikmat yang mengambil manfaat dari setiap pertikaian yang terjadi diantara anak-anak bangsa.

Apa lagi jika Pemilu sdh mendekat. Komplek parlemen selalu menggeliat untuk menikmati ketidakjujuran baru para elit politik kita. Selama reformasi bergulir, UU tentang pemilu selalu dilakukan perubahan sesuai selera mereka. Hal itu didorong oleh kepentingan politik main main belaka, bukan politik untuk kebaikan bangsa. Kita sebagai rakyat dibuat seperti barang mainan orang-orang dengan kualitas otak yang isinya terbatas: terbatas hanya keuntungan kelompok belaka.

Coba kita perhatikan, perubahan UU Pemilu tak pernah ajeg. Selalu berubah tak menentu, hingga datang suatu waktu di republik ini yakni kotak suara terbuat dari kardus, sedang kunci dan gembok kotak suara itu terbuat dari besi. Sungguh ini kebodohan yang berlangsung di atas mimbar jumat atau si atas altar gereja. Oleh karena itu, maka wajar jika mekanisme Pemilu yang berlangsung dengan manajemen kebodohan itu hanya akan melahirkan pemimpin bodoh. Mari kita nikmati secara suka cita, sebab semua itu memang kelucuan yang dipertontonkan.

Lalu apa sesungguhnya masalah mendasar dari politik kita hingga Hari ini? Tiada lain adalah masalah moral politik elit yang parah. Moral hazard yang tidak saja menjadi darah daging, namun sudah menjadi sumsum. Jadi moral hazard itu sudah berada di dalam tulang yang diselimuti daging. Lalu bagaimana cara menghancurkannya? Mari kita cari cara secara bersama.

Pemilu Daring 2024

Pandemic Covic-19 telah mengurung semua anak manusia untuk kembali pada fitrahnya. Banyak orang kehilangan sarana untuk mempertahankan kebohongan. Sebab kehidupan digital akan selalu memantau jejak-jejak langkah setiap anak manusia. Era digital sejatinya adalah abad berkuasanya Malaikat Rokib dan Atit sang pencatat amal kebaikan dan keburukan manusia. Selama ini, Malaikat itu tidak nampak, tapi sekarang ini, dimana teknologi itu semakin canggih, maka Tuhan menunjukkan kepada manusia bahwa kedua Malaikat memang nyata adanya. Sistem digital itu bekerja semakin sempurna sebagaimana malaikat bekerja. Tidak ada satu pun yang tercecer tanpa dicatat dengan sangat baik.

Pertanyaannya adalah, apakah manajemen pemilu Indonesia bisa diperbaiki melalui bantuan teknologi digital? Tentu sangat bisa dan ini adalah satu satunya cara untuk membuat Bangsa ini Jujur kembali. Misalnya pemilihan umum dilakukan secara daring. Ada banyak keuntungan pemilu dikerjakan secara daring.

Dari perspektif manajemen kepemiluan, pemilu daring ini akan jauh lebih efektif dan efisien. Dapat memangkas biaya pemilu yang sangat besar untuk kemudian kita alihkan pada anggaran pendidikan dan kesehatan masyarakat.

Dari segi efektivitas pekerjaan dan tugas-tugas pokok kepemiluan akan jauh lebih efektif, tepat guna dan sasaran. Seluruh aktivitas pemilu akan lebih mengutamakan kualitas ketimbang ornamen kepemiluan itu sendiri. Pemilu Daring diyakini akan lebih mempercepat bangsa ini kembali pada kejujuran. Sebab kejujuran bangsa ini adalah elemen pokok dan penting bagi bangsa ini untuk meraih kemajuan. Tidak ada kemajuan tanpa kejujuran. Teknologi memaksa kita untuk jujur.

Kalau tidak jujur maka kita akan sengsara sendiri. Seperti jejak digital kebohongan para elit yang terekam kuat dan masif di media sosial. Kebohongan adalah harimau yang akan menerkam pelakunya sendiri.
Di era digital, jamu ada satu.pilihan rasional yakni bersikap jujur sejak awal. Terkait ide Pemilu Daring ini silakan selanjutnya dipikirkan bersama seluruh anak bangsa sesuai dengan keahliannya masing-masing.
Silakan belajar pada India yang dikabarkan sudah menggunakan teknologi digital dalam pemilu mereka.

Eksperimentasi Politik Sektoral

Pemilu Daring merupakan proyek politik yang mahal dari sisi ide, namun terlalu mudah dan murah meriah dari perspektif finansial. Adalah urgen bagi bangsa ini jika kita berusaha untuk melaksanakan Pemilu Saring itu sebagai proyek percontohan. Misalnya pemilihan kepala daerah kita coba secara parsial, lalu kita uji juga secara simultan di beberapa daerah. Apa keuntungan dan kerugiannya jika parsial dan apa keuntungan dan kerugiannya jika berlangsung secara simultan.

Saya pribadi melihatnya akan ada banyak manfaat ketika pemilu daring ini kita eksperimentasi secara sektoral dibeberapa daerah yang sudah memiliki jaringan internet yang memadai. Jika tidak tersedia, maka PT Telkom dan Provider lainnya bisa dipersiapkan untuk membangun jaringan nya secara bertahap.

Menurut saya sudah saatnya kegiatan perpolitikan bangsa ini mendapatkan sentuhan manajemen modern. Kehadiran.manajemen modern dalam.politik nasional adalah penting dan mendesak agar hanya aini dapat berjalan sesuai koridor yang diharapkan bersama oleh seluruh bangsa.

Di kampus-kampus yang menyelengarakan pendidikan Ilmu politik sangat penting untuk menyediakan mata kuliah manajemen politik agar penyelenggaraan dan tata kelola politik bangsa ini berjalan sesuai dengan ilmu pengetahuan yang baik.

Fathorrahman Fadli

(Direktur Eksekutif Indonesia Development Research/IDR, Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Pamulang)

Sumber: ngopibareng

Selengkapnya

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button