Podium

Meluruskan Arah Persahabatan Bangsa

Oleh: Fathorrahman Fadli

Sarapan Pagi Bersama Mr Ong

SEJAK kecil kita sering diajarkan beberapa perkara hidup yang kini hilang karena kerasukan pikiran-pikiran baru yang sejatinya ganjil. Ganjil karena berlawanan secara diametral dengan nasihat orangtua agar kita mencari dan berkumpul dengan orang-orang shaleh.

MBAH Nun, panggilan akrab Kiai mbeling Emha Ainun Najib yang flamboyan hingga kini itu sering melantunkan tembang-tembang orang sholeh ‘kumpulono’. Sedemikian pentingnya; memilih persahabatan itu, maha Muhammad Rasulullah yang berjuluk ‘hatamal anbiya’ itu berabad-abad lamanya mewanti-wanti agar umatnya berkumpul dan bergaul dengan orang sholeh.
Nasihat ini penting agar kita terhindar dari pengaruh buruk orang-orang yang tidak sholeh diluar sana.

Bukan hanya kepada manusia Tuhan mendidik kita agar berteman dengan orang sholeh, namun perintah itu juga kepada para hewan. Waktu saya masih duduk dibangku SMA, guru biologi saya, namanya Sungiba Kirawan, mengajari kami soal ilmu taksonomi hewan. Semoga beliau sehat walafiat dan.tetap mengabdi untuk mencerdaskan anak-anak bangsa.

Kalau kami menyontek, beliau langsung sewot dan nilai kami akan dipotong 50 persen. Karena itu pilihan kami hanya tekun belajar. Hasilnya saya, masih bisa mengingat ilmu yang sudah 32 tahun yang silam diajarkan Pak Sungiba Kirawan itu.

Menurut Pak Bakir, panggilan akrab kami pada beliau, ada hukum-hukum alam dalam alam raya ini. Namanya hukum kekerabatan. Dengan mimik yang serius, guru biologi yang rada nyentrik itu membius kami, terutama saya dengan dalil yang paten banget. Ia seolah hendak bertindak sebagai pakar biologi besar dunia sekelas Alexander Fleming asal Skotlandia atau Alexander Oparin dari Rusia.

Dengan menggebrak papan tulis hitam (the black board) dan kapur tulis putih yang kerap terbang jika kami gaduh ia berkata, “Semakin besar kesamaannya, maka semakin dekat pula kekerabatannya”.

Ini jelas merupakan postulat yang sangat penting dalam ilmu biologi dasar, dan setelah saya dewasa sekarang, saya mengerti dengan baik manfaat ilmu Pak Bakir itu dalam kehidupan.

Beliau menjelaskan, burung Nuri tidak akan mungkin terbang bersama bebeknya Pak Ujang, bukan? Kenapa? Karena burung Nuri bisa dimarahi ibu Ujang ,” katanya yang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal.

Sejenak kemudian Pak Bakir itu menjelaskan, Hal itu terjadi karena persamaan antara bebek Pak Ujang dan burung Nuri terlalu sedikit. Bulu bebek Pak Ujang besar dan kaku, sedang burung Nuri bulunya lembut kecil-kecil.

Jadi mustahil si bebek bisa diajak terbang tinggi bersama burung Nuri. Demikian Pak Bakir yang suka becanda itu menjelaskan kepada kami. Terkait taksonomi hewan itu saya teringat pepatah Inggris yang bunyinya begini, ” Birds of a Feather Flock Together” (burung-burung dengan jenis/warna bulu yang sama akan berkumpul dan terbang bersama).

Namun setelah saya dewasa; setelah belajar ilmu macam-macam, saya menemukan hukum baru dalam pergaulan hidup antar anak manusia.

Mereka bergaul bukan lagi karena persamaan bulu, namun karena persamaan kepentingan.
Persamaan politik, bukan lagi persamaan ruhani. Seperti orang sholeh, selayaknya kumpul bersama orang sholeh. Orang jahat biasanya berkumpul dengan orang jahat.

Karena itu ada seorang ahli hikmah yang bilang, “Jika engkau mau melihat siapa orang itu, maka lihatlah siapa teman mereka”.

Mari kita coba implementasikan pikiran ahli hikmah itu dalam kehidupan bangsa dan negara kita. Misalnya, Dengan siapa bangsa ini bergaul, dengan siapa bangsa ini bekerjasama membangun, dengan siapa bangsa ini berhutang, dengan siapa pula bangsa ini menjalin persahabatan.

Coba renungkan, adakah persahabatan kita yang ganjil, kawan? Adakah yang salah kita sebagai bangsa? Mengapa kita selalu terpuruk dengan hutang-hutang yang membesar tak karuan? Mengapa kekayaan bangsa ini dinikmati oleh orang asing dan aseng?

Mengapa kita berhutang padahal kita orang kaya. Mengapa kita terjebak hutang padahal kita sebagai negara besar yang kaya potensi. Ini pasti karena kita salah bergaul.

Kita salah memilih sahabat dalam hidup ini. Orang melawan Tuhan kita jadikan sahabat, orang ingkar pada Allah kita jadikan teman, jadikan mitra bisnis. Dan seterusnya. Pikirkan sendiri. Saya hanya mengantarkan anda semua berpikir.

Coba pikir Tuhan saja ditipu, apalagi kalian. Tuhan saja dilawan, apalagi manusia. Coba pikir, coba renungkan, agar setelah wabah Covid 19 ini reda, kita tentukan arah baru. Kita tentukan haluan persahabatan yang baru. Barangkali kita sebagai bangsa telah memilih teman yang salah.

MENGAPA? SEBAB negeri ini adalah negeri kaum beriman kepada Tuhan. Janganlah negeri ini diajak untuk melawan Tuhan.

Sebab itu bertentangan dengan pandangan hidup bangsa kita yakni Pancasila; Negara yang berketuhanan yang Maha Esa. Negeri yang berkemanusiaan yang adil dan beradab. NEGERI yang mencintai persatuan. Negeri yang menjunjung tinggi musyawarah untuk mencapai mufakat. Dan, kita juga negeri yang merindukan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.

Ayo koreksi, karena selama ini kita terpaksa salah jalan, yaitu membangun persahabatan yang ganjil. (*)

Penulis: (Direktur Eksekutif Indonesia Development Research/IDR dan Dosen pada Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang)

Selengkapnya

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button