HeadlinePodium

Pesan Deliar Noer (1)

Oleh: Fathorrahman Fadli

Deliar Noer tergolong begawan politik pertama di Indonesia. Beliau layak kita kenang sebagai sosok yang istiqomah dalam berjuang. Deliar-lah peraih Ph.D pertama Indonesia di bidang Ilmu Politik dari Cornell University, salah satu kampus paling bergengsi di Amerika Serikat.

Saya beruntung karena selama menjadi jurnalis sempat beberapa kali melakukan serentetan interview secara mendalam. Saya interview Deliar dengan topik-topik yang sangat menarik seputar kehidupan berbangsa dan bernegara. Dari situ saya paham beliau adalah orang tulus dan sangat cendekia. Kemarin istri beliau meninggal dunia, semoga beliau mendapatkan maqamam mahmuda.

Saya tidak memiliki kedekatan dengan ibu Deliar, karena selama saya berkunjung ke rumahnya di Duren Sawit Jakarta Timur itu beliau tidak pernah nongol untuk sekadar menemani Pak Deliar diwawancarai atau sekadar memberi minum. Biasanya saya hanya disuguhkan minuman oleh pembantunya. Saya biasanya menaruh intensi pada Pak Deliar.

Kini setelah keduanya tiada, saya berfikir dibawa kemana buku-buku koleksi beliau? Saya tidak tahu pasti. Apakah beliau punya sikap antisipatif seperti Profesor Salim Said, tempat saya belajar politik mutakhir dan masalah-masalah militer di Instute peradaban itu. Prof. Salim punya cita-cita, jika kelak bukunya yang seabrek dari lantai 2 hingga lantai 3 itu akan diserahkan kepada Perpustakaan Nasional.

Saya bersama saudara Ichsan Loulembah, Zulfikar, Zaki Mubarok, Pak Sukojo sempat menemani Pak Salim saat silaturahmi dengan kepala Perpustakaan untuk menitipkan harta intelektualnya itu. Bagi Prof. Salim langkah itu akan jauh lebih bermanfaat jika kelak beliau tiada. Buku-buku yang dia beli dari tetesan keringat, berhemat sana sini itu memang terlalu sayang jika tak ada orang yang merawatnya secara profesional. Saya tidak tahu, apakah pikiran yang sama juga dimiliki oleh Pak Deliar selaku profesor politik dan sejarah.

Yang jelas buku karyanya Pak Deliar sudah melimpah, dan nyaris tak satupun sarjana ilmu politik maupun sejarah yang tak baca buku Pak Deliar Noer. Saya juga tidak tahu apakah para profesor ilmu sosial yang lain juga bersikap seperti Prof Salim. Sebelum meninggal buku-bukunya sudah diwariskan pada tempat yang tepat. Tentu kita harus memberi apresiasi atas inisiatifnya yang futuristik itu.

Selama saya menjalani jurnalisme, saya memang merasa senang jika berhasil mewawancarai secara eksklusif tokoh-tokoh intelektual di negeri ini. Apa sebab? Saya akan mendapat beberapa keuntungan. Pertama, saya bisa menuliskan berita dari sumber yang qualified, dan itu berarti telah mengantarkan saya sebagai jurnalis yang baik.

Kedua, apabila saya pulang, saya tidak akan bertemu dengan selembar amplop terima kasih atau sekadar uang transpot. Tapi saya akan menerima buku-buku baru mereka, dan bagiku itu jauh lebih berharga dan bermakna dalam hidup. Itulah manfaat kita bertemu dengan kaum berilmu.

Ketiga, saya bisa belajar tentang banyak hal dari orang-orang pintar itu secara gratis. Tentu saja bukan ilmu teoritik yang ia sajikan dalam buku-buku itu. Namun betul-betul ilmu pengetahuan yang sudah ia peras menjadi intinya. Juga ilmu tentang solusi hidup dan untaian hikmah yang sangat mencerahkan.

Keempat, jika saya bertekat-dekat dengan orang berilmu, terasa bathin ini menjadi basah sejuk. Ilmu betul-betul.mengantarkan kita pada kesejukan. Oleh karena itu tak berlebihan jika Rasulullah sekian abad silam telah mengajarkan tentang pentingnya kita memiliki ilmu.

“Barang siapa yang ingin hidupnya bahagia didunia carilah ilmu, barangsiapa yang ingin selamat carilah ilmu, dan barangsiapa yang ingin bahagia di dunia dan akhirat carilah ilmu” (HR. Bukhari Muslim).

Pesan-Pesan Deliar

Sebagai Doktor dalam Ilmu politik, Pak Deliar tentu melakukan banyak permenungan tentang masa depan bangsa ini. Kecintaan beliau pada Indonesia itu tak bisa lagi diukur dengan para pencari kuasa akhir-akhir ini. Tentu karena jarak cintanya itu jauh seperti bumi dengan langit. Oleh karena itu mereka bukan bandingannya. Sesuatu yang tidak setara.

Banyak pesan yang terlontar dari Pak Deliar selama saya mewancarainya. Namun saking banyaknya pesan penting dan strategis itu akan saya cicil dalam beberapa tulisan selanjutnya.

Pertama soal sistem penggajian dan pendapatan. Masalah ini mungkin tak banyak orang tahu, karena Pak Deliar jarang sekali mengungkapkannya di depan publik. Menurut Pak Deliar, dua pokok masalah itu kalau tidak dikelola secara baik dan benar serta penuh disiplin maka akan membentuk satu kehidupan sosial yang radikal. Dimana radikalnya? Pendapatan yang tidak merata akan membentuk strata sosial ekonomi yang jarak (gap)-nya jauh antara sikaya dan si miskin.

Biasanya hal ini tidak disadari oleh Pemerintah yang berkuasa, namun dalam puluhan tahun ke depan jarak itu akan semakin terlihat. Bukan hanya terlihat tapi akan menjadi jurang pemisah yang makin dalam dan mengerikan. Orang yang berpendapatan besar secara otomatis akan membentuk kehidupan sosialnya masing-masing, begitu pula bagi si miskin yang pendapatannya rendah.

Bagi Deliar, kondisi itu dirasakannya setelah Orde Baru tumbang, dimana masyarakat warga Indonesia hidup dalam kemelaratan sedang warga penumpang (anak kos) hidup nya begitu makmur akibat kongkalikong dengan kekuasaan. Mereka parah warga keturunan itu bisa bikin pabrik dan perusahaan macam-macam.atas fasilitas kekuasaan, namun dibiarkan memberikan upah seadanya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja para buruh-buruh itu harus menyambutnya dengan utang.

Potret kehidupan seperti itulah yang sangat dirisaukan oleh pak Deliar. Menurut Deliar, Negaralah yang berkewajiban untuk memperbaiki struktur penggajian hingga pada titik yang rasional orang hidup normal. Kalau negara tidak hadir dalam soal strategis yang menentukan nasib rakyatnya itu adalah sama dengan tidak ada negara.

Negara, sambung Deliar tidak boleh membiarkan perusahaan mengambil terlalu banyak keuntungan dengan memeras tenaga dan pikiran karyawan tampak peduli pada kesejahteraan mereka. Negara harus punya instrumen untuk menghukum keras para pengusaha yang seperti itu.

Namun apa faktanya, negara justru berkomplot dengan pengusaha dan tidak lagi mau peduli terhadap nasib karyawan.

Nampaknya, pesan Pak Deliar ini menjaringkan diperkirakan sejalan dengan ambisi kaum.penguasaan yang mendesak pemerintah untuk memunculkan UU Omni Bus Law yang kontroversial itu. Semoga ada orang cerdas dan baik hati di seputar Jokowi untuk membisikkan kebenaran yang dipesankan Pak Deliar itu. Semoga. (bersambung)

Fathorrahman Fadli

(Direktur Eksekutif Indonesia Development Research/IDR, Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Pamulang)

Sumber: ngopibareng

Selengkapnya

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close