HeadlineSarapan Pagi

Validitas Data jadi Kunci Sukses PSBB untuk Habisi Corona

Oleh: Dr Abidinsyah Siregar

MENTERI Kesehatan RI telah memberi Penetapan atas usul Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada tanggal 7 April 2020 sesuai dengan PP No 21 Tahun 2020 dan selanjutnya Pemprov DKI mulai menerapkan sepenuhnya PSBB diwilayah DKI Jakarta mulai Jumat 10 April 2020.

Ini adalah kesempatan emas bagi masyarakat Jakarta terbebas dari cenkraman virus Covid-19 yang sangat infeksius dan cepat tersebarnya.

Tentu banyak hal sedang dipersiapkan Pemprov DKI Jakarta dengan cermat dan serius. Tidak hanya aspek kesehatan, juga aspek lain yang akan menjadi dampak penerapan PSBB seperti aspek Ekonomi, Logistik sembako, Pendidikan, Transportasi, Bantuan sosial, Hak publik dan banyak lagi termasuk pelayanan kesehatan umum lainnya, hingga kepada tehnis pemenuhan dan ketersediaan.

Tetapi jangan sampai bergeser PRIMA CAUSA dari semua rangkaian dampak ini. Penyebab awal adalah infeksi virus Covid-19, yang sudah merupakan Pandemi, yang menjangkau lebih 210 Negara didunia.

Hampir semua kota didunia terpapar. Jakarta adalah salah satunya. Walaupun di Indonesia, bukan menjadi kota pertama yang terpapar. Tetapi kini menjadi episentrum, kota paling mengalami dampak terbesar, terberat dan terriskan (paling berisiko) di Indonesia.

BAGAIMANA VALIDITAS DAN AKURASI DATA COVID-19
BAPAK Presiden juga mengakui belum semua data terkumpul. BNPB selaku Tim Gugus Tugas PPCV Covid-19 juga membenarkan data Covid-19 yang disajikan Pemerintah Pusat tidak sinkron dengan Pemrintah Daerah. Asupan data dari Kemenkes juga terbatas. Sehingga BNPB belum bisa menghasilkan data yang sangat lengkap dan terbuka (Tempo.com 5 April 2020).

Sementara itu BIN memberikan perkiraan yang akurat bahwa jumlah kasus akan mencapai 105.000 pada bulan Juni dan Juli 2020. Para epidemiolog dan periset Eijkman memprediksi lebih 70.000 kasus pada April-Mei 2020. Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) membuat catatan bahwa jika tidak ada tindakan atau intervensi besar dalam pencegahan virus covid-19, diperhitungkan sampai akhir April 2020, akan ditemukan kasus positif antara 11.000 hingga 71.000 di Indonesia. .

Data kasus terdampak virus Covid-19 banyak diperdebatkan di dalam dan luar negeri. Sebagian pakar merasa khawatir dengan data yang kita miliki. Banyak menyebut under reported. Dianggap belum terkumpul dari semua sumber.

Validitas dan akurasi data menjadi kunci sukses PSBB.
Globalisasi semakin terbuka dengan kemajuan tehnologi era 4.0. Semua by evidence. Dari sini kini kita punya Big Data. Rekan saya alumni USU Dr.Manerep Pasaribu (Dosen Managemen Strategis FEB UI) pada suatu kesempatan acara Kongkow Virtual IKA USU Family dengan thema “Indonesia Melawan Covid-19, Surviving The Corona Time” mengatakan “Dengan Big Data, bisa membantu mengikuti pergerakan manusia, dan dengan data pergerakan, kita bisa mengambil langkah pengendalian dan penanganan”.

Sebagaimana diketahui untuk mengetahui pola sebaran virus, adalah dengan tracing/ pelacakan gerakan manusia yang terinfeksi dan semua kontaknya selama inkubasi. Dalam tulisan terdahulu, penulis menyarankan pendekatan Geospasial.

Data akurat dibutuhkan untuk membuat perencanaan tindakan yang tepat. Dan tentu harus akuntabel karena didalamnya digunakan Anggaran Negara dan Daerah.

Ada quote dari Benjamin FRANKLIN (Bapak Pendiri Amerika Serikat, 1706-1790), katanya : “if you fail to plan, you are planning to fail”.
Jika GAGAL DALAM PERENCANAAN, sama dengan merencanakan kegagalan.

Kita harus punya data akurat terpapar virus Covid-19, jumlah ODP, jumlah kasus PDP di rumah, atau dirawat di wisma atau RS, jumlah kasus positif di semua Faskes rujukan, termasuk dengan kondisi kritis di seluruh Indonesia.

Dari data jumlah kasus, pola sebaran, dan keganasan (virulensi) serta geografi (khas wilayah Indonesia), kita dapat membuat perkiraan kebutuhan seperti :

1.Berapa tempat tidur yang dibutuhkan PDP isolasi dan PDP dirawat di RS.

2.Jumlah kebutuhan perawatan RS Rujukan kasus positif dan ICU kasus positif.

3.Jumlah SDM Kesehatan lengkap, perbekalan kesehatan lengkap dan APD.

4.Jumlah Tim Ambulatory Mobile untuk jemput kasus dan penanganan darurat.

5.Jumlah tim pemulasaraan/ pengurusan jenazah semua agama yg terlatih dan APD serta tim pemakaman beserta APD dan perlengkapannya.

6.Jumlah ruang ICU dengan Ventilator serta Oksigen karena sangat dibutuhkan, khas kondisi kasus adalah kesulitan bernafas akibat fibrosis paru yang luas.

7.Fasilitas pendukung bagi tim medis agar tetap fit bekerja profesional. Yang mungkin kebutuhannya semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya kasus.

BAGAIMANA AKURASI ANGKA KASUS COVID-19
Data kasus Indonesia per 9 April 2020 adalah 3.293 orang (pertambahan hari ini adalah tertinggi yakni 337 orang), 2.761 dalam perawatan, kematian 280 orang (bertambah 40 orang hari ini). Secara umum tampak angka kematian kasus Covid-19 Indonesia diatas 10%. Sementara rerata dunia 8%, dan teori para epidemiolog menghitung antara 2-4% saja.
Pertanyaan akurasi bisa diajukan pada jumlah kasus atau jumlah kematian.

Kita anggap jumlah kematian akurat. Jika kita gunakan angka 280 kematian, maka bisa diperhitungkan berapa kira-kita jumlah kasus positif Corona virus covid-19 di Indonesia. Jika kita gunakan angka kematian 9% maka jumlah kasus : 3.111 kasus.

Jika 7% maka ada 4.000 kasus, Jika 5% maka ada 5.600 kasus, Jika 3% maka ada 9.333 kasus. Yang manakah yang lebih mendekati fakta, tentu diantara 3.111 sampai 9.333 kasus.

Dr.Erlina Burhan,Sp.P pada suatu dialog TV acara ILC, juga sempat berkomentar dan gusar dengan tingginya angka kematian kasus Covid di Indonesia, Erlina meragukan jumlah kasus positif Covid-19.

Sikap terbaik dalam menekan kejadian wabah adalah mewaspadai angka kejadian terbesar.

PSBB JAKARTA
Dari publikasi Covid-19 Jakarta, tanggal 9 April, tercatat 1.719 kasus positif, 1.077 dalam perawatan, 155 meninggal (angka kematian CFR antara 9-14%), 405 isolasi mandiri dan 82 orang sembuh. Selanjutnya ada 2.327 orang status PDP (Pasien Dalam Pengawasan), 1.072 sedang dirawat dan 1.255 pulang sehat. Sedangkan ODP (Orang Dalam Pemantauan) sebanyak 2.865 orang, 557 orang proses pemantauan, 2.308 selesai pemantauan/sehat.

Dari data diatas, berapakah jumlah kasus penderita terinfeksi virus Covid-19 di Jakarta?. 1.718 atau 4.046 atau 6.911 orang.

Untuk menemukan angka paling mendekati. Kita uji dari angka kematian (versi Kemenkes/BNPB) yakni 155 orang. Jika kita gunakan angka kematian 14% maka jumlah kasus positif di Jakarta adalah 1.107 orang, jika CFR 11% kasus 1.409 org, jika CFR 9% kasus 1.722 orang, jika CFR 7% kasus 2.214 orang, jika 5% kasus 3.100 orang dan jika CFR 3% sesuai perhitungan epidemiolog ada 5.166 kasus.
Tidak jauh dari perhitungan Gubernur DKI Jakarta antara 4.000-8.000 kasus.

Menkes Terawan sudah menegaskan, dengan penetapan PSBB kewenangan sepenuhnya berada ditangan Gubernur DKI Jakarta untuk wilayah Jakarta.

Secara teoritis, jika tracing tuntas, test uji kondisi (Rapid test dan Swab) diikuti dengan treatment cepat dan tepat, maka dalam 30 hari angka kasus Covid Jakarta akan melandai signifikan, dan menunjukkan keberhasilan pada 30 hari berikutnya.

MANFAAT AKURASI DATA COVID-19

Akurasi data ini perlu, agar kita terhindar dari perilaku seakan-akan bisa, seakan-akan cukup, seakan-akan terkendali.

Akurasi ini penting agar Sistem bisa lebih siap, dan masyarakat merasa tenang dan pada gilirannya patuh terhadap semua kebijakan pemerintah, khususnya menerima penerapan PSBB, sekalipun membuat aktivitas mereka berhenti.

Akurasi data ini juga dibutuhkan untuk menjaga stabilitas ipoleksosbudhankam, yang dalam suasana kegalauan publik bisa saling berpengaruh, dan bisa berbenturan.
Beban Pemerintah dan Masyarakat yang sangat besar khususnya menghadapi kebutuhan RT sehari-hari yang boleh jadi semakin besar dari sebelumnya, juga kebutuhan menghadapi Bulan Ramadhan, Iedul Fithri. Dan hari2 berikutnya yang diperhitungkan 90 hari sejak April.

Dengan adanya angka akurat, maka potensi SDM kesehatan maupun dukungan dana bantuan bagi masyarakat terdampak bisa diatur dengan tertib dan tidak menimbulkan gangguan menambah kesusahan yang dialami masyarakat banyak.

Memang akurasi data bukan satu-satunya yang terpenting, tetapi dalam prinsip kerja benar, selalu diawali dengan kepastian wujud masalah, dalam hal ini angka atau jumlah kasus yang valid adalah unsur utama dalam ketepatan rencana dan tindakan.
Ini adalah konsekuensi untuk memberhasilkan PSBB sebagai jalan rasional, tanpa meninggalkan efek ekonomi, kesejahteraan dan politik yang rumit.(*)

Penulis : Dr.Abidinsyah Siregar (Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes/ Alumnus Public Health Management Disaster, Thailand/ Tim Nasional Pencegahan Virus Covid-19 DMI dan PMI/ Ketua IKA FK USU Jakarta/ Ketua Orbinda IKAL Lemhannas)

Selengkapnya

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button