Apakah Anda Menikah dengan Orang yang Anda Cintai?

- Penulis

Minggu, 26 Oktober 2025 - 03:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Liputanmadura.com (Jakarta) – Oleh: Wahyudi El Panggabean

Saya kira, sebagian besar manusia dewasa menikah dengan orang yang dicintainya. Saya juga.

Tetapi, sadarilah:_bagaimana pun momen Anda dulu “jatuh cinta” dengan pasangan Anda_toh itu hanyalah awal perjalanan panjang menuju kedewasaan hati.” Minggu 26 Oktober 2025

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Suasana hati yang “berbunga-bunga” karena menyelip sebuah harapan, bahwa pasangan kita kelak, akan membawa kebahagiaan dalam rumah tangga. Harapan yang berlaku secara timbal balik.

Hari berjalan, pekan berganti, bulan berlalu. Toh, aroma kebahagiaan, kok malah makin memudar. Sebersit harapan diawal pernikahan, tak kunjung mewujud menjalani hari-hari yang mulai terasa hambar. Kenapa?

Seorang Psikolog pernah berujar: “Adalah beban yang berat, jika kita menggantungkan kebahagiaan kita pada orang lain”.

Hakikatnya, saat mahligai rumah tangga dibingkai, masing-masing person membawa luka. Justru, obat penyembuh luka itu pun ada pada diri masing-masing.

Sumber kebahagiaan sejati, sesungguhnya, terpatri di lubuk hati terdalam. Kebahagiaan tidak bersumber dari validasi eksternal. Bukan dari sikap dan prilaku pasangan Anda. Kebahagiaan bersemayam di hati.

Jika kondisi ini tidak dipahami lebih dini, akan sangat sulit mengabadikan_cinta yang telah kita ikrarkan_sepanjang perjalanan. Karena cinta yang lahir secara prematur hanya berharap penyembuhan luka lama.

Terkesan keliru, jika Anda mencari ketenangan dan kedamaian bathin, dari pasangan Anda. Urgensinya justru, Anda yang membagi kedamaian dalam hubungan yang Anda jalani. Sebaliknya, berlaku buat pasangan Anda.

Wajar, jika orang bijak mengklaim: Cinta yang sehat hanya tumbuh pada pasangan yang telah lebih dulu belajar menyelaraskan suasana hati masing-masing. Lantas, memilih untuk_berani hidup_berdampingan.

Sebenarnya, Psikolog Sosial dari Jerman, Erich Fromm, sudah mewanti-wanti sejak separo abad silam: “Sesungguhnya cinta orang dewasa adalah dua kesendirian yang saling menjaga batas. Tanpa kehilangan diri”.

Pada titik inilah: kuncinya. Menyadari sepenuhnya, bahwa kebahagiaan mesti dibangun bersama atas tanggung jawab, kejujuran & loyalitas.

Hal ini bisa mewujud, jika masing-masing person konsist menabur benih kebahagian dalam kondisi apapun. Agar mesin rumah tangga senantiasa sehat, butuh pelumas rutin dan terjadwal. Pelumas itu adalah kebahagiaan.

Namun, ketika situasi terasa “sulit”, yang dibutuhkan tidak lagi sebatas rekah senyum yang memaksa semangat berjuang terus menyala. Tetapi, kemampuan bertahan agar kapal yang ditumpangi tidak bakal tenggelam.

Potensi seseorang untuk bertahan ditentukan oleh kedalaman cinta-nya pada rumah tangganya sendiri. Jam terbang atas perjuangan dan kesulitan hidup yang menjadi guru baginya di tengah perjalananan. Hingga dia tumbuh menjadi individu berkarakter produk tempaan kepedihan.

Sayangnya, di kehidupan serba distraksi saat ini, orang-orang modern lebih memprioritaskan “rasa” ketimbang “makna”. Padahal, kedalaman cinta hanya bisa diselami dari ceruk terdalam makna dari cinta itu sendiri.

Hadirlah generasi yang rapuh. Kerapuhan mental ini dipoles oleh validasi dalam sebuah rumah tangga. Sepintas, terlihat kuat & memesona. Tetapi, saat angin badai mulai bertiup: “Kapal, oleng, Kapten….!”

Para pengamat pernikahan, dengan mudah menyebut penyebab perceraian sebagian besar oleh kesulitan ekonomi. Angka yang sudah mencapai 400 ribu kasus perceraian selama tahun 2024.

Lantas, benarkan masalah perceraian dengan angka spektakuler ini penyebabnya kesulitan ekonomi?

Dari permukaan mungkin: iya. Tetapi, bagai air sungai yang tenang, di bagian dasar berputar, bersilang-sengketa.

Jika ditelusuri kembali ke titik awal, akan ketemu masalahnya. Lingkaran persoalan berpusar pada titik sulitnya menemukan sosok yang tidak hanya layak dicintai. Juga layak dijadikan teman hidup karena value, karakter dan arah hidup yang sejalan dengan kita.

Pertanyannya, apakah kita juga sudah menjadi pribadi yang layak mencintai?

Yang pasti, kegagalan sebuah rumah tangga, tidak sekadar badai kesulitan ekonomi. Tetapi, kegagalan dua hati untuk saling memahami dalam menjalani tujuan yang sama.

Jadi teringat penggalan syair, Sastrawan Riau, Edi Ruslam Pe Amanriza:

“Sedungguhnya, kita berangkat dari pedih yang sama….”

Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H.,MT.BNSP.,C.PCT adalah Direktur Utama, Lembaga Pendidikan Wartawan, Pekanbaru Journalist Center (PJC)

Penulis : Redaksi

Editor : Admin LM

Sumber Berita: Liputan Madura

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel liputanmadura.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bitcoin Kembali Menguat, INDODAX Soroti Sentimen Global dan Pertumbuhan Pasar Kripto Domestik
Polri Terbitkan SE Larangan Penggunaan Vape bagi Personel
INDODAX Selesaikan Pemeriksaan Keamanan dan Mulai Pulihkan Layanan
INDODAX Ingatkan Pentingnya Verifikasi Kontak Resmi di Tengah Meningkatnya Risiko Keuangan Digital
INDODAX Cermati Tren Kripto dan Web3 Global di TOKEN2049 Singapore 2026
Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri
Catatan Rapat The Fed Soroti Inflasi AS, INDODAX Ajak Investor Cermati Dinamika Pasar Kripto
INDODAX dan Ayobantu Hadirkan Posko Darurat untuk Masyarakat di NTT

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 10:13 WIB

Bitcoin Kembali Menguat, INDODAX Soroti Sentimen Global dan Pertumbuhan Pasar Kripto Domestik

Senin, 2 November 2026 - 12:43 WIB

Polri Terbitkan SE Larangan Penggunaan Vape bagi Personel

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 22:08 WIB

INDODAX Selesaikan Pemeriksaan Keamanan dan Mulai Pulihkan Layanan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:21 WIB

INDODAX Ingatkan Pentingnya Verifikasi Kontak Resmi di Tengah Meningkatnya Risiko Keuangan Digital

Selasa, 13 Oktober 2026 - 10:09 WIB

INDODAX Cermati Tren Kripto dan Web3 Global di TOKEN2049 Singapore 2026

Berita Terbaru