Rally Kripto Dipicu Tol Bitcoin, INDODAX Soroti Dampaknya pada Ekonomi Global

- Penulis

Rabu, 15 April 2026 - 05:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Liputanmadura.com (Jakarta) – Harga Bitcoin mencatatkan lonjakan 6% hingga mendekati level

US$75.000 pada Senin (13/4), menyusul fenomena short squeeze masif yang dipicu oleh blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat. Kemudian, Iran merespons dengan kebijakan tak terduga, yakni mewajibkan pembayaran ‘Tol Bitcoin’ bagi seluruh kapal tanker yang melintasi jalur tersebut.” Rabu 15 April 2026

Dinamika geopolitik ini tidak hanya memicu likuidasi posisi short senilai ratusan juta

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

dolar, tetapi juga mengukuhkan fungsi kripto sebagai alat strategis dalam ekonomi modern.

Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menyatakan bahwa lonjakan harga Bitcoin dan aset

kripto lain mencerminkan semakin kuatnya posisi aset kripto dalam merespons tekanan global.

“Kenaikan harga Bitcoin di tengah kombinasi faktor geopolitik, inflasi, dan dinamika pasar menunjukkan bahwa kripto semakin dipandang sebagai alternatif lindung nilai. Fenomena seperti penggunaan Bitcoin dalam aktivitas ekonomi lintas negara menjadi sinyal bahwa adopsi kripto terus berkembang, tidak hanya di level ritel tetapi juga dalam konteks global yang lebih luas,” ujar Antony.

Langkah Iran mengenakan tarif setara US$1 per barel dalam bentuk Bitcoin menciptakan

permintaan organik yang masif secara instan. Sistem pembayaran berbasis blockchain ini digunakan Iran untuk memastikan transaksi tetap berjalan dan strategi untuk menghindari sanksi internasional dengan memanfaatkan sistem keuangan di luar jangkauan Amerika Serikat (AS).

Di sisi lain, inflasi (CPI) Amerika Serikat yang naik ke 3,3% pada Jumat (10/4) menunjukkan

peningkatan signifikan dibandingkan tren 1–2 tahun terakhir yang rata-rata berada di kisaran 2,4%–3%. Kenaikan harga akibat konflik Timur Tengah meningkatkan ekspektasi bahwa inflasi akan tetap tinggi, sehingga mendorong investor melakukan diversifikasi ke aset alternatif seperti Bitcoin, serta memperkuat narasi sebagai safe haven di tengah tekanan pada nilai mata uang konvensional.

Pada kisaran harga US$74.000 – US$75.000 saat ini, pergerakan Bitcoin menunjukkan penguatan

turut didukung oleh arus masuk dana (inflow) ke ETF Bitcoin spot yang mencapai sekitar

US$1,94 miliar sepanjang Maret hingga April. Dukungan likuiditas ini memperkuat struktur harga dan menjaga momentum positif dalam jangka pendek.

Sentimen positif ini turut mendongkrak aset kripto lainnya. Berdasarkan data CoinMarketCap, Ethereum (ETH) terdongkrak naik 8% ke level US$2.380, diikuti Solana (SOL) yang menguat 5,2% ke US$86,60, serta BNB yang naik 3,2% ke posisi US$615,50.

Menurut Antony, dinamika ini menunjukkan bahwa industri kripto mulai memasuki fase baru

dalam adopsinya.

“Jika sebelumnya kripto lebih banyak dipandang sebagai aset spekulatif, saat ini perannya mulai meluas ke ranah geopolitik dan perdagangan internasional. Ini adalah perkembangan yang

penting, karena memperlihatkan bahwa teknologi blockchain memiliki relevansi yang semakin

nyata dalam sistem ekonomi global,” tambahnya.

Meski demikian, Antony mengingatkan bahwa volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar kripto. Faktor lain seperti kebutuhan likuiditas menjelang Producer Price Index dan penjualan pajak di Amerika Serikat, serta perubahan kebijakan moneter berpotensi mempengaruhi pergerakan harga jangka pendek. Oleh karena itu, investor diimbau untuk tetap mengedepankan manajemen risiko dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan sentimen sesaat.

Secara historis, April merupakan bulan positif bagi Bitcoin, dengan rata-rata kenaikan 69% sejak

2013 ditutup di zona hijau. Namun, tahun ini pergerakan pasar lebih dipengaruhi faktor

geopolitik dan makroekonomi, serta dampak lanjutan dari koreksi harga tahun lalu. Hingga

kuartal kedua 2026, Bitcoin tercatat naik sebesar 8,64%.

INDODAX melihat perkembangan ini mencerminkan pergeseran peran kripto dari sekadar instrumen investasi menjadi bagian dari dinamika ekonomi global. Dalam hal ini, INDODAX

berkomitmen untuk terus menyediakan platform yang aman dan transparan, serta mendukung investor Indonesia dalam memahami dan merespons peluang di industri aset digital secara lebih bijak, guna mendorong terciptanya manfaat jangka panjang bagi para member.

Penulis : Red-Tim

Editor : Admin LM

Sumber Berita: Liputan Madura

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel liputanmadura.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

INDODAX Soroti Penguatan Ekosistem Kripto Nasional di FEKDI x IFSE 2026
Bitcoin Tercatat Sentuh US$87.000, INDODAX Sebut Sentimen Pasar Kripto Kian Optimistis
The Fed Naikkan Suku Bunga, INDODAX Soroti Respons Bitcoin di Tengah Kebijakan Ketat
Arus Dana ETF Bitcoin Tembus US$3,8 Miliar, INDODAX Nilai Pasar Tetap Perlu Cermati Faktor Makro
Volume INDODAX Naik ke Rp8,7 Triliun di Tengah Pertumbuhan Investor Kripto
Bitcoin Sentuh US$80.000, INDODAX Ingatkan Investor Tetap Perhatikan Dinamika Pasar
Polri Siapkan Personel Dukungan ke Flores untuk Perkuat Penanganan Gempa M 7,7
INDODAX Dorong Penguatan Builders dan Likuiditas untuk Jadi Crypto Hub Regional

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 12:24 WIB

INDODAX Soroti Penguatan Ekosistem Kripto Nasional di FEKDI x IFSE 2026

Selasa, 22 September 2026 - 11:19 WIB

Bitcoin Tercatat Sentuh US$87.000, INDODAX Sebut Sentimen Pasar Kripto Kian Optimistis

Selasa, 8 September 2026 - 10:45 WIB

Arus Dana ETF Bitcoin Tembus US$3,8 Miliar, INDODAX Nilai Pasar Tetap Perlu Cermati Faktor Makro

Selasa, 1 September 2026 - 07:39 WIB

Volume INDODAX Naik ke Rp8,7 Triliun di Tengah Pertumbuhan Investor Kripto

Kamis, 27 Agustus 2026 - 10:12 WIB

Bitcoin Sentuh US$80.000, INDODAX Ingatkan Investor Tetap Perhatikan Dinamika Pasar

Berita Terbaru