Liputanmadura.com (Surabaya) Jawa Timur – Upaya ulama pesantren Madura yang tergabung dalam Badan Silaturahmi Ulama. Pesantren Madura (BASSRA) dalam meng upgrade pola pikir masyarakat sekaligus mengangkat citra positif Madura menjadi tema sentral dalam acara Halal Bi Halal dan Bedah Buku Sejarah BASSRA Potret Perjuangan Ulama Madura.” Jum’at 10 April PLN UIN Jawa Timur, Surabaya.
Kegiatan ini menghadirkan refleksi tentang peran ulama pesantren tidak hanya sebagai penjaga nilai moral, tetapi juga sebagai aktor sosial yang responsif dalam merespons dinamika pembangunan dan berbagai stigma yang berkembang di ruang publik.
Forum tersebut menghadirkan sejumlah narasumber lintas latar belakang, yakni Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, Guru Besar Sejarah Pemikiran Islam Klasik UIN Sunan Ampel Surabaya, Top Speaker Dr. KH. Muhamad Aunul Abied Shah LC , MA, Pengasuh Pondok Pesantren Darus Salam Torjun, Sampang, Ahmad Mustaqir, General Manager PLN IUD Jawa Timur, serta Dr. Adam Muhshi, pakar Hukum Tata Negara Universitas Airlangga. Para narasumber mengulas perjalanan dan peran ulama pesantren Madura dalam merespons perubahan sosial, kebijakan publik, serta tantangan besar terkait citra Madura di mata masyarakat luas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Acara ini diselenggarakan oleh Badan Silaturahmi Ulama’ Pesantren Madura (BASSRA), dengan Koordinator Pusat saat ini adalah RKH Muhammad Rofiie Baidhowi, Pengasuh Pondok Pesantren Al Hamidy Banyuanyar, Pamekasan.
Kegiatan ini dihadiri para ulama pesantren Madura lintas daerah yang tergabung dalam BASSRA, termasuk para Koordinator Daerah dari berbagai kabupaten di Madura. Dari Kabupaten Bangkalan hadir KH Imam Bukhori Kholil AG dan KH Makki Nashir yang memimpin doa. Dari Kabupaten Sampang hadir KH Syafiuddin Abdul Wahed, Rais Syuriyah PCNU Sampang yang memimpin tawassul dan pembacaan al Fatihah, bersama KH Mahrus Malik. Dari Kabupaten Pamekasan hadir RKH Mudatsir Badruddin dan KH Ali Rahbini.
Sementara itu, dari Kabupaten Sumenep hadir Dr. KH Ahmad Fauzi Tidjani, MA dan juga dihadiri oleh Abuya KH Busyro Karim. Kehadiran para Koordinator Daerah tersebut menegaskan soliditas jejaring ulama pesantren Madura dalam satu wadah silaturahmi dan perjuangan kolektif.
Dalam diskusi yang berlangsung, para ulama menyoroti kuatnya narasi negatif tentang Madura yang kerap viral di ruang publik, seperti kesan udik, keras, atau identik dengan kekerasan, sementara sisi-sisi positif Madura jarang mendapatkan ruang yang seimbang. Padahal, Madura memiliki jaringan pesantren yang sangat padat, tradisi ritual dan spiritual yang hidup, serta kontribusi besar dalam pendidikan, dakwah, dan pembentukan karakter masyarakat. Karena itu, BASSRA menegaskan pentingnya counter informasi positif, yakni upaya sadar untuk melawan narasi negatif yang berkembang luas dengan menghadirkan berita-berita baik tentang Madura dan orang Madura, termasuk praktik keilmuan, pendidikan pesantren, kehidupan spiritual, serta berbagai prestasi masyarakat Madura di tingkat lokal maupun nasional.
Pada saat yang sama, ditegaskan bahwa perjuangan ulama BASSRA tidak berhenti pada kerja kultural dan narasi publik, tetapi juga diwujudkan dalam upaya nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat Madura. Selama ini, BASSRA dikenal aktif memperjuangkan kepentingan petani garam dan tembakau melalui dorongan tata niaga yang lebih adil dan berpihak pada petani serta pengusaha lokal Madura. Ikhtiar tersebut dipandang penting agar sumber daya ekonomi Madura tidak terus dikelola melalui sistem yang merugikan masyarakat di tingkat akar rumput.
Perjuangan ekonomi tersebut juga tercermin dalam keterlibatan BASSRA pada gagasan pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus Tembakau Madura, yang ditempuh melalui rangkaian kajian akademik, pengawalan proses legislasi, serta pendekatan kepada para pemangku kebijakan, termasuk Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Upaya ini dipandang sebagai strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi tembakau Madura secara struktural dan berkelanjutan.
Dalam konteks politik kewilayahan, ulama BASSRA juga terlibat dalam kolaborasi dengan Panitia Nasional Pembentukan Provinsi Madura sebagai bagian dari ikhtiar memperjuangkan masa depan Madura. Sejalan dengan itu, BASSRA turut mendorong pembentukan Kotamadya Pamekasan, yang telah memperoleh persetujuan dari lima kecamatan di sekitar Kota Pamekasan, DPRD Pamekasan, serta Bupati Pamekasan. Seluruh upaya tersebut ditempuh melalui pendekatan dialogis dan persuasif kepada para pemangku kebijakan hingga tingkat nasional.
Dalam sesi dialog, ditegaskan pula bahwa ulama yang tergabung dalam BASSRA secara konsisten memilih pendekatan responsif dan persuasif, bukan reaktif atau konfrontatif, dalam menyikapi persoalan sosial dan kebijakan publik. Sikap ini telah menjadi karakter perjuangan BASSRA sejak awal berdirinya pada awal 1990 an. Sejalan dengan prinsip tersebut, BASSRA menyatakan akan bersikap terhadap isu yang berkembang akibat pernyataan oknum anggota DPR yang menuduh pesantren Madura sebagai pusat perdagangan narkoba. Tuduhan tersebut dinilai tidak berdasar, mencederai martabat pesantren, serta berpotensi memperkuat stigma negatif terhadap Madura, mengingat pesantren selama ini berperan sebagai pusat pendidikan, pembinaan moral, dan penguatan spiritual masyarakat.
Kehadiran para Koordinator Kabupaten BASSRA menegaskan soliditas ulama pesantren Madura lintas wilayah. Dari Bangkalan hadir KH Imam Bukhori Kholil AG dan KH Makki Nashir yang memimpin doa; dari Sampang hadir KH Syafiuddin Abdul Wahed, Rais Syuriyah PCNU Sampang yang memimpin tawassul dan pembacaan al Fatihah, bersama KH Mahrus Malik; sementara dari Pamekasan hadir RKH Mudatsir Badruddin dan KH Ali Rahbini.
Melalui forum ini, ditegaskan kembali bahwa potret perjuangan ulama BASSRA merupakan perjuangan jangka panjang yang mencakup upaya meng upgrade mindset masyarakat, mengangkat citra Madura, menjaga nilai moral, serta memperjuangkan kesejahteraan dan masa depan Madura melalui pendekatan yang responsif, persuasif, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Penulis : Red-Tim
Editor : Admin LM
Sumber Berita: Liputan Madura








